Mengapa Kadar Oksigen Menipis Saat Berada di Puncak Gunung?

30/12/2023, 19:25 WIB
Artikel dan Ilustrasi ini dibuat dengan bantuan artificial intelligence (AI). Dimohon untuk bijak memanfaatkan informasi. Jika Anda menemukan ada kesalahan informasi atau kesalahan konteks, silakan memberitahu kami ke feedbackohbegitu@gmail.com
Mengapa Kadar Oksigen Menipis Saat Berada di Puncak Gunung?
ilustrasi pendaki bernapas menggunakan inhaler, karena kadar oksigen menipus (Midjourney)
Table of contents
Editor: Luqman Alfadil

OHBEGITU.com - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa kita merasa sesak napas saat berada di puncak gunung? Hal ini disebabkan oleh penipisan kadar oksigen di udara. Fenomena ini menarik untuk dijelaskan, karena melibatkan berbagai faktor yang memengaruhi konsentrasi oksigen di udara pada ketinggian tertentu. Mari kita telusuri lebih dalam mengenai alasan di balik penipisan kadar oksigen saat berada di puncak gunung.

Faktor Ketinggian Terhadap Kadar Oksigen

Ketika seseorang naik ke ketinggian, tekanan udara akan menurun. Hal ini berarti bahwa pada ketinggian tertentu, udara akan menjadi lebih rapuh dan konsentrasinya berubah. Kadar oksigen di udara pada permukaan bumi adalah sekitar 21%, namun pada ketinggian 5500 meter, kadar oksigen bisa menurun hingga 50% dari kadar normalnya. Hal ini disebabkan oleh penurunan tekanan udara seiring dengan kenaikan ketinggian.

Baca juga: Mengapa Tubuh Kita Menggigil Saat Kedinginan?

Menurunnya tekanan udara juga berdampak pada menurunnya tekanan parsial oksigen di udara. Tekanan parsial oksigen adalah tekanan yang dihasilkan oleh oksigen dalam campuran udara. Semakin tinggi ketinggian, semakin rendah pula tekanan parsial oksigen, sehingga jumlah oksigen yang masuk ke dalam paru-paru juga akan berkurang. Akibatnya, tubuh akan merasa kekurangan oksigen, yang ditandai dengan sesak napas dan penurunan performa fisik.

Adaptasi Tubuh Terhadap Kadar Oksigen yang Menipis

Tubuh manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan ketinggian. Ketika seseorang naik ke ketinggian, tubuh akan merespons dengan meningkatkan jumlah sel darah merah. Hal ini disebabkan oleh penurunan kadar oksigen, yang membuat tubuh perlu memproduksi lebih banyak sel darah merah untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Proses ini disebut sebagai aklimatisasi, di mana tubuh berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang berbeda.

Selain peningkatan jumlah sel darah merah, tubuh juga akan meningkatkan laju pernapasan untuk mencoba menangkap lebih banyak oksigen. Meskipun demikian, adaptasi ini memerlukan waktu, sehingga orang yang baru tiba di ketinggian tinggi mungkin akan merasakan gejala sesak napas dan kelelahan akibat penurunan kadar oksigen.

Baca juga: Mengungkap Fakta Menarik Mengenai Mata Minus: Pandangan yang Memudar

Pengaruh Kadar Oksigen Terhadap Kesehatan

Penipisan kadar oksigen di udara juga berdampak pada kesehatan manusia. Kadar oksigen yang rendah dapat menyebabkan hipoksia, yaitu kondisi di mana tubuh kekurangan oksigen. Hipoksia dapat menyebabkan gejala seperti sakit kepala, kebingungan, dan bahkan kematian jika tidak segera diatasi. Oleh karena itu, penting untuk memahami dampak penipisan kadar oksigen saat berada di ketinggian dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah terjadinya hipoksia.

Kesimpulan

Dengan demikian, penipisan kadar oksigen saat berada di puncak gunung disebabkan oleh penurunan tekanan udara dan tekanan parsial oksigen. Hal ini memengaruhi kemampuan tubuh untuk mendapatkan oksigen yang cukup, sehingga menimbulkan gejala sesak napas dan kelelahan. Meskipun tubuh memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan ketinggian, penting untuk memahami pengaruh penipisan kadar oksigen terhadap kesehatan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah dampak negatifnya.

Baca juga: Menggali Manfaat Luar Biasa dari Ceker Ayam: Lebih dari Sekadar Camilan Enak

Sains Lainnya