PERUBAHAN iklim adalah salah satu topik yang mendapat perhatian besar di era kontemporer. Konsekuensinya yang luas dan beragam membuat isu ini menjadi perhatian global dan telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari ekosistem alam hingga perekonomian negara-negara di dunia, termasuk Indonesia.
Secara sederhana, perubahan iklim dapat didefinisikan sebagai perubahan jangka panjang dalam kondisi cuaca rata-rata di suatu wilayah atau seluruh planet.
Perubahan ini bisa disebabkan oleh faktor alamiah, seperti letusan gunung berapi atau variasi matahari, namun dalam beberapa dekade terakhir, aktivitas manusia—terutama pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi—telah menjadi penyebab utama perubahan iklim global.
Baca juga: Mengapa Kadar Oksigen Menipis Saat Berada di Puncak Gunung?
Akumulasi gas rumah kaca di atmosfer mengakibatkan efek rumah kaca yang lebih kuat, yang kemudian meningkatkan suhu permukaan Bumi. Ini mengakibatkan serangkaian perubahan cuaca dan iklim, mulai dari suhu yang meningkat, pola hujan yang berubah, hingga kenaikan permukaan laut.
Iklim Dunia Sepanjang Masa: Dari Zaman Es Hingga Era Pemanasan Global
Sejarah panjang Bumi telah menyaksikan berbagai fluktuasi iklim. Jutaan tahun lalu, Bumi telah mengalami beberapa periode zaman es, ketika es menutupi sebagian besar permukaannya.
Faktanya, zaman es terbesar yang pernah terjadi berlangsung sekitar 650 juta tahun yang lalu dan dikenal dengan nama Zaman Es Bola Salju (Snowball Earth).
Selama periode ini, diperkirakan seluruh planet tertutup es dari kutub hingga khatulistiwa (Ian Sample, "When Earth turned into a giant snowball," 2017).
Baca juga: Mengapa Tubuh Kita Menggigil Saat Kedinginan?
Setelah periode zaman es, iklim Bumi menjadi hangat. Periode hangat ini sering disebut dengan era antarglasial. Selama era ini, es mencair, memicu kenaikan permukaan laut dan perubahan pola curah hujan. Selama jutaan tahun, Bumi berfluktuasi antara periode dingin dan hangat ini.
Salah satu perubahan iklim terbesar yang terjadi adalah pada periode Paleosen Eosen Thermal Maximum (PETM) sekitar 55 juta tahun yang lalu, saat suhu global naik drastis dalam waktu yang singkat (James Zachos, "Rapid Acidification of the Ocean During the Paleocene-Eocene Thermal Maximum," 2005).
Catatan Sejarah dan Bukti Ilmiah Perubahan Iklim
Perubahan iklim tidak hanya diketahui dari rekaman geologi. Bukti lainnya meliputi inti es dari kutub, sedimen dasar laut, serta tulang dan tanaman fosil.
Baca juga: Mengungkap Fakta Menarik Mengenai Mata Minus: Pandangan yang Memudar
Inti es, misalnya, menyediakan catatan rinci tentang suhu dan kandungan gas rumah kaca di atmosfer selama ratusan ribu tahun (Eric J. Steig, "Climate Change over the last 2000 years: Recent and Future Changes," 2012).
Sedimen dasar laut memberi kita gambaran tentang suhu dan salinitas laut di masa lalu. Sementara itu, fosil tumbuhan dan hewan dapat memberi tahu kita tentang jenis iklim dan lingkungan di mana mereka hidup.
Selain itu, catatan sejarah manusia juga memberikan bukti perubahan iklim. Tulisan-tulisan kuno dan gambar-gambar pada dinding gua dapat menunjukkan bagaimana iklim mempengaruhi peradaban kuno.
Misalnya, banyak teori mengatakan bahwa perubahan iklim mungkin berperan dalam kemunduran peradaban Maya (Douglas J. Kennett, "Development and Disintegration of Maya Political Systems in Response to Climate Change," 2012).
Sebagai tambahan, riset modern menggunakan model komputer untuk mensimulasikan iklim masa lalu dan memprediksi perubahan di masa depan. Teknologi ini memungkinkan para ilmuwan untuk memahami dengan lebih baik bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi kehidupan kita di masa depan (Gavin A. Schmidt, "Modeling past and future climate," 2007).
Sejarah Perubahan Iklim di Indonesia
Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki iklim tropis yang terpengaruh oleh interaksi antara daratan dan lautannya. Berdasarkan catatan historis, ada peningkatan suhu rata-rata di Indonesia.
Dalam beberapa dekade terakhir, suhu udara rata-rata di beberapa kawasan telah meningkat sekitar 0,2°C hingga 0,3°C per dekade (BMKG, "Analisis Data Iklim Indonesia," 2019). Selain itu, ada indikasi bahwa curah hujan tahunan di beberapa wilayah Indonesia mengalami penurunan, sementara beberapa wilayah lainnya justru mengalami peningkatan.
Curah hujan yang tidak menentu sering kali membawa dampak negatif, seperti kekeringan di beberapa daerah dan banjir di daerah lain. Misalnya, wilayah timur Indonesia cenderung mengalami kekeringan, sementara wilayah barat lebih sering mengalami banjir dan tanah longsor akibat curah hujan yang berlebihan (Rizaldi Boer, "Variabilitas dan Perubahan Iklim di Indonesia," 2015).
Studi tentang Perubahan Pola Cuaca di Indonesia Beberapa Dekade Terakhir
Perubahan pola cuaca di Indonesia sangat dipengaruhi oleh fenomena El Nino dan La Nina. El Nino berdampak pada meningkatnya suhu permukaan laut di Pasifik Tengah, yang mengakibatkan suhu rata-rata di Indonesia meningkat dan curah hujan menurun.
Sebaliknya, La Nina berdampak pada penurunan suhu permukaan laut di Pasifik Tengah, yang berkontribusi pada curah hujan yang lebih tinggi di sebagian besar Indonesia (BMKG, "Dampak El Niño dan La Niña Terhadap Iklim Indonesia," 2018).
Dalam beberapa dekade terakhir, frekuensi dan intensitas fenomena El Nino dan La Nina tampaknya meningkat. Hal ini berpengaruh langsung pada pola cuaca di Indonesia.
Selain itu, perubahan penggunaan lahan, seperti konversi hutan menjadi lahan pertanian atau pemukiman, juga memberikan dampak terhadap mikroklimat di sejumlah wilayah. Misalnya, deforestasi di Kalimantan dan Sumatera dikaitkan dengan meningkatnya temperatur dan penurunan curah hujan di wilayah tersebut (Agus Fahmuddin, "Deforestasi dan Perubahan Iklim Lokal di Indonesia," 2017).
Referensi:
Ian Sample, "When Earth turned into a giant snowball," Guardian Books, 2017.
James Zachos, "Rapid Acidification of the Ocean During the Paleocene-Eocene Thermal Maximum," Science Journals, 2005.
Eric J. Steig, "Climate Change over the last 2000 years: Recent and Future Changes," Nature, 2012.
Douglas J. Kennett, "Development and Disintegration of Maya Political Systems in Response to Climate Change," Science Journals, 2012.
Gavin A. Schmidt, "Modeling past and future climate," NASA, 2007.
BMKG, "Analisis Data Iklim Indonesia," Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, 2019.
Rizaldi Boer, "Variabilitas dan Perubahan Iklim di Indonesia," Jurnal Sains dan Teknologi, 2015.
BMKG, "Dampak El Niño dan La Niña Terhadap Iklim Indonesia," Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, 2018.
Agus Fahmuddin, "Deforestasi dan Perubahan Iklim Lokal di Indonesia," Jurnal Lingkungan dan Pembangunan, 2017.